7 Alasan Untuk Tidak Melewatkan Sarapan

Berkembangnya informasi tentang diet dan pola hidup sehat menimbulkan banyak pro kontra tentang asupan makanan sehat, pola makan sehat dan waktu makan yang tepat.

Sarapan sering menjadi ‘korban’ ketika seseorang melakukan diet. Ada yang berpendapat bahwa sarapan hanya akan menambah berat badan. Benarkah?
Ternyata banyak ahli yang justru menganjurkan sarapan untuk semua orang termasuk pelaku diet. Mengapa?

Image

Dilansir dari feminiya.com berikut 7 alasan penting kita tidak boleh melewatkan sarapan.

1. Sarapan Membuatmu Lebih Enerjik

Buktikan dalam 2 hari. Hari pertama, jangan sarapan lalu pergi kerja (atau aktivitas harian lainnya) dan langsung makan siang. Hari berikutnya, sempatkan sarapan kemudian berangkat kerja. Rasakan perbedaan antara dua hari tersebut. Saat kita pergi beraktivitas dengan perut kenyang, kita akan merasa lebih berenegi karena sarapan menaikkan tingkat energi dalam tubuh dan mempersiapkannya untuk beraktivitas sepanjang hari.Disarankan untuk memperbanyak protein pada menu sarapan karena protein dapat meningkatkan energi, membuat kenyang lebih lama dan bisa menjaga napsu makan sepanjang hari.

2. Lebih Waspada

Otak akan bekerja lebih efisien saat tubuh terisi bahan bakar dari sarapan. Sehingga akan lebih mudah untuk berkonsentrasi, fokus dan waspada. Jika tubuh kekurangan bahan bakar maka akan mudah mengantuk dan lesu.

3. Membantu Menurunkan Berat Badan

Sarapan sehat yang kaya protein seperti telur, ikan atau gandum dapat membantu menurunkan berat badan secara efektif. Karena kandungan nutrisi yang mengenyangkan akan membuat kita berhenti makan dan melewatkan makanan penutup yang manis atau cemilan sebelum wakru makan siang.

4. Menurunkan Resiko Penyakit Diabetes

Sarapan dapat mengontrol kadar gula darah dalam tubuh. Jika melewatkan sarapan maka gula darah akan meningkat secara tidak langsung. Oleh karena sarapan mampu menurunkan berat badan bagi penderita obesitas, dan mampu menjaga berat badan ideal, dan berat badan ideal berpengaruh pada kadar gula darah dalam tubuh, maka sarapan mampu menurunkan resiko diabetes.

5. Mengurangi Resiko Penyakit Jantung

Sarapan sehat memberikan pasokan energi pada tubuh dan organ-organ lain untuk bekerja sepanjang hari, seperti jantung. Menurut Eric Rimm seorang profesor epidemiologi di Harvard mengatakan, “Mereka yang melewatkan makan pagi lebih cenderung untuk memiliki berat badan berlebih, berisiko tinggi terhadap diabetes, hipertensi, dan kadar kolesterol yang tinggi.” Selain itu, mereka lebih cenderung makan makanan lebih tinggi kalori pada saat makan siang dan malam. Yayasan Jantung Inggris mengatakan, sarapan membantu orang menolak makanan ringan bergula sebelum makan siang.

6. Menurunkan Resiko Darah Tinggi

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi putih telur dapan menggurangi masalah tekanan darah tinggi. Zat peptida yang terkandung dalam putih telur dipercaya efektif dalam membantu menurunkan tekanan darah. Peptida dalam putih telur mampu menghambat atau menghalangi aksi ACE (angiotensin-converting-enzyme), dimana ACE adalah zat yang diproduksi oleh tubuh dan berpotensi untuk meningkatkan tekanan darah. Menariknya, peptida dalam telur ini tidak hilang meski setelah melewati process pemasakan dengan cara direbus. Membiasakan sarapan telur rebus akan membantu menjaga tekanan darah sepanjang hari.

7. Menjaga dari Mood Swings

Penelitian menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapan menambah ketegangan ekstra dalam tubuh. Sehingga ketika dihadapkan pada aktivitas berat yang menguras energi dan pikiran seseorang akan cenderung mudah mengalami perubahan suasan hati yang drastis atau biasa disebut mood swings. Dengan sarapan badan akan lebih segar dan siap menghadapai aktivitas sehari-hari.

Jadi, pilihan menu sarapan sehat seperti roti gandum, madu, telur rebus dengan sayur dan buah-buahan segar. Kurangi karbo putih, minyak dan lemak. Jika terburu-buru cukup dengan 1 buah apel atau pisang atau segelas jus buah.
Pastikan tubuh kita mendapatkan bekal nutrisi yang cukup untuk beraktivitas sepanjang hari.

Kehebohan Suami Nonton ‘5CM’

Ini sebernarnya postingan rada basi ya.. dan aku bukan mau cerita atau rekomendasi filmnya. Cuma mau cerita moment langka dan mood swing-nya suami ku ‘cuma’ gara-gara sebuah film Indonesia yang biasanya dia paling males nonton.

Jadi, suatu sore di akhir bulan November 2012, suami tetiba ngajak nonton film ‘5cm‘. Waaaa… ga biasa nih. Sebagai istri yang mengenalnya 6 tahun  lebih, ini jelas kejadian tidak biasa. Karena, suami ku ini cuma suka film action. Ga suka film drama – karena katanya banyak ngobrolnya aja bikin ngantuk. Ga suka film romantis – karena cuma menjual mimpi dan gombalan. Ga suka film horor – tanpa ada alasan 🙂 , film komedi macam Adam Sandler, Jack Black, Ben Stiller gitu masih mau nonton tapi cuma di TV atau DVD. Kalau di bioskop cuma mau nonton film action. Seru jedar jedornya. So, jelas heran dong aku liat dia tetiba so excited pengen nonton film drama macam ‘5cm’ gitu.

5cm

Ternyata alasan suami karena film ini syutingnya beneran di Semeru dan sampai ke Ranu Kumbolo dan Mahameru. Weeee… ini nih.. bau-baunya udah ga enak. Suami ku ini waktu SMA tergabung di PA (Pecinta Alam), jelas lah tiap bulan pasti naik gunung (lebay). Walau belum terlalu banyak gunung yang dia daki, baru Gunung Ceremai, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Penanggungan dan Gunung Sindoro, tapi kalau masalah frekuensi sih cukup bisa diandalkan. Dia sudah ‘terlalu’ sering (sampai lupa udah berapa kali) naik ke gunung Ceremai, ya karena dia SMA di Cirebon. Naik Merbabu 3 kali dan Lawu 2 kali. Mulai akhir masa kuliah intensitas naik gunungnya berkurang drastis. Terakhir naik gunung sekitar tahun 2007, ke Sindoro tapi gagal sampai puncak karena dihadang kabut tebal dan rombongan memutuskan turun. Sampai sekarang dia belum naik gunung lagi. Makanya dia masih penasaran untuk naik ke Rinjani dan Semeru.

Nah.. jadilah film ‘5cm’ ini semacam ‘pemanasan’ untuk bisa ke Semeru, liat Ranu Kumbolo, Ranu Pane, Tanjakan Cinta, Kali Mati, Ladang Edelwies dan Mahameru. Padahal ya belum tahu kapan bisa benar-benar ke Semeru. Hihihi..

Oke, back to the movie..

Suatu hari sepulang kerja, suami cerita kalau dia baru baca berita tentang film itu di salah satu situs berita online. Tadinya dia pikir syuting di Semeru itu cuma di kaki gunung saja. Eh, ternyata beneran naik. Kebetulan, malam harinya di salah satu acara talk show di TV swasta, menghadirkan para pemain film ‘5cm’ sekaligus promo film. Makin banyak bocoran cerita dari proses syuting hingga pengalaman selama di Semeru plus trailer film yang ditunjukkan, makin penasaran lah suami ku tercintah ini. Dia sampai berkali-kali bilang, ‘Harus nonton ya Neng.. pokoknya nonton’. Aku sempat menggoda, ‘Eh.. itu film drama lho.. banyak ngobrolnya.. ga ada tembak-tembakannya..’. Dia jawab, ‘Aku ga peduli filmnya tentang apa, ga peduli yang main siapa.. aku cuma mau liat Semeru, Ranu Kumbolo sama Mahameru!’. Ehmmm… OK.

Film ini serentak tayang tanggal 12 Desember 2012. Malamnya sebelum hari H, suami udah mulai cerewet. Mau nonton yang jam berapa, ga usah masak ya… makan di sana sekalian aja, dll. Eh.. tunggu dulu… Ini beneran mau nonton di hari pertama? Oh… ini bukan suami ku banget. FYI, kami ga pernah nonton film di bioskop di hari pertama. Alasannya jelas, males antri berdesak-desakan. Sekali antri panjang dulu waktu nonton Transformers 2 (Revenge of the Fallen) tahun 2009 atau 2010 gitu. Aduh.. ga mau lagi. Film box office macam The Avengers, The Dark Knight Rises, Iron Man 2, The Raid, dll semua kita nonton di akhir-akhir masa tayang. Saat bioskop udah sepi, atau paling tidak ga ada antrian menggila sampe ke luar gedung. Eh, tapi ini .. film Indonesia, drama dan suami mau nonton di hari pertama?

Di hari H, sekitar jam 8 pagi aku cek jadwal tayang film di web 21cineplex. Tapi betapa kecewanya, di Solo belum tayang! Waduh.. katanya serentak di seluruh Indonesia. Iseng aku cek kota-kota lain. Dari Sabang sampai Merauke, sudah tayang semua kecuali Solo dan Ambon. Aneh… Waktu aku bilang itu ke Suami, dia juga jelas kecewa. Dia bilang, ‘Belum update kali web nya.. nanti jam 10 coba lagi ya..’. Jam 10 – 12 siang aku coba cek berkali-kali hasilnya nihil. Tetap Solo belum tayang ‘5cm’. Kesel dan kecewa.

Di saat masih kecewa itu, ada teman di BBM (Blackberry Messenger) yang pasang DP foto antrian di Studio 21 Ambarukmo Plaza Yogyakarta. Aku kirim gambar itu ke suami. Aku bilang, ‘Yogya udah.. mau ke Yogya aja besok Jumat?’. Suami ku justru protes, ‘Ya ngapain pake ke Yogya.. promonya kan serentak di seluruh Indonesia. Lagian Solo kan ada Studio 21 ada XXI. Seharusnya pangsa pasarnya besar kan.. Bandingkan dengan Cirebon yang hanya ada 21 di Grage sama Hero itu pun sepi! Masa di sana udah tayang di sini belum..’. Haduh… suami kalau udah ada maunya memang keras kepala gini ya.

Ya mau gimana lagi, kalau nyatanya Solo belum tayang.

Sekitar jam 1 siang, suami kirim WA gambar ini :

5cm

Waaa… kok bisa…

Ternyata eh ternyata, suami penasaran. Dia iseng cari nomer telepon Studio 21 Solo Grand Mall, langsung telepon tanya kapan film ‘5cm’ tayang. Hasilnya mengejutkan.. Film itu sudah tayang dan memang belum diupdate di web. Rrrrrggggg…

Suami langsung meluncur ke 21 beli tiket. (Untung pas jam makan siang ya..). Pas tiket sudah di tangan dan fotonya sudah dikirim aku, aku bilang, ‘Kung.. itu bukannya depan sendiri ya?’. Jawabnya, ‘Enggak ah… kata mbaknya belakang sendiri kok..’

Walahh.. dari pada debat ga jelas mending nunggu nanti malam aja di TKP.

Malamnya, berangkatlah ke 21. Studio 21 Solo itu ada di Lantai 4 Solo Grand Mall. Selama jalan ke sana kita bareng sama rombongan ‘anak gunung’. Rameeee … banget.. keliatan dari gaya-gayanya. Celana gunung yg kantongnya banyak itu, sandal gunung, pada kembaran pakai kaos Mapala (lupa tulisannya apa) plus bawa tas gunung yg gede itu juga! Dari lantai dasar kita udah curiga, ini pada mau nonton ‘5cm’ kali ya.. eh,, ternyata bener. Malah rombongan PA itu pada foto di poster ‘5cm’ yang besar di depan pintu 21.

While, suami yang penasaran mengajak ku ke tempat penjualan tiket, cek nomer kursi kita jadinya di mana. Dan benar saja… itu depan sendiri! Wekkkk… mana enak nonton bioskop depan sendiri.. Muka suami langsung BT. Kecewa. Dia sempet bilang, ‘Mendadak jadi males gini Neng… tadi waktu beli kata mbaknya itu belakang sendiri..’. Aku sempet nawarin, ‘Gimana? Mau dibatalin? Jual aja tiketnya tuh banyak yang kehabisan kan.. kita nonton besok aja?’. Suami ga jawab apa-apa, tapi wajahnya jelas sangat kesal.

So, setelah pertimbangan ini itu akhirnya tetep jadi nonton juga. Not bad lah duduk depan sendiri. Walau cewek sebelah ku super berisik dan norak.

Terbukti, selama film suami ga terlalu menikmati awal cerita, dia baru terlihat excited ketika adegan mereka memulai perjalanan naik kereta ekonomi lanjut naik mobil sampe ke Semeru. Dan seterusnya, dia lebih terhibur dengan pemandangan Semeru yang SubhanaLLAH indahhhhh… banget! Udah banyak yang nonton filmnya kan.. Ga perlu aku ceritain lagi ya.. Tapi yang pasti kami puas nontonnya.  🙂

Nonton film ini seperti tidak asing. Selama 6 tahun kenal suami, selama itu pula dia sering bilang ke aku,

‘Neng, hidup itu ibarat naik gunung. Naik gunung itu yang penting bukan saat sampai di puncak. Tapi justru proses pendakiannya. Kamu akan terus mendaki membawa berat beban, medan terjal. Di situ mental kamu akan terbentuk, Di situ kamu akan diuji oleh alam. Kamu harus kuat menahan berat, dingin, kering, terjal, licin. Tapi ketika sampai puncak, kenikmatannya tak tertandingi. Begitu juga hidup. Suatu saat ketika kamu sukses, kamu akan dengan bangga menceritakan proses perjalanan mu yang penuh liku. Dan itu pasti indah sekali.’

Dulu, sekitar tahun 2007, usai wisuda suami dan temannya (Dodo) pernah mengajak ku naik ke Bukit Turgo. Kata mereka, ‘Belajar dulu naik bukit, Ta’ .. Hihi.. itu pun masih dihinadina selama perjalanan, ‘Kalau ga kuat turun aja,Ta’ .. Haduh.. Ya memang ‘cuma’ bukit sih. Dan tingginya ‘cuma’ 1200 mdpl. Kita naik pagi jam 8 pagi turun jam 3 sore. Itu pun puncak Merapi tertutup awan. Huff…

Satu-satunya foto yang tersisa, lainnya di komputer lama yang sekarang entah kemana.. :(

Satu-satunya foto waktu naik Turgo yang tersisa, Lainnya di komputer lama yang sekarang entah kemana.. 😦

So, aku bersyukur menikahi ‘anak gunung’. Jauh sebelum film ini, dia sudah menerapkan banyak prinsip-prinsip naik gunung dalam kehidupan kami.

Suami pernah bilang, ‘Neng, nanti kalau kita punya anak, ga peduli cewek atau cowok aku ajakin naik gunung ya..’. –Me, nodded.

***

Eh, belum selesai. Weekdays menjelang libur Natal kemarin:

Suami : Neng, besok weekend nonton maraton yuk..

Me : Asikkk.. apaan? Habibie Dan Ainun? The Hobbit? Silent Hill?

Suami : Bukan, 5cm sama The Hobbit.

Me : LAGI???

***

Suami Ku dan Kesabarannya

Bohong kalau ada yang bilang kehidupan rumah tangganya selalu baik-baik saja. Kerikil kecil sampai batu besar pasti selalu siap menghadang. Karena itulah hidup. Namun semua kembali pada kita bagaimana menjalaninya. Ada yang terpuruk, ada yang tetap tegar, ada yang makin bersemangat bahkan ada yang putus asa.

Begitu pun kami.

Tanpa banyak orang tahu, moment libur panjang Idul Adha kemarin(28 Oktober 2012), yang seharusnya jadi moment happy bersama keluarga, berubah jadi moment jungkir balik untuk ku. Warning dari ALLAH SWT yang kali ini memang begitu keras menampar ku dan suami. Entah bagaimana orang lain jika menghadapi ini, tapi kami.. jujur, kami begitu jauh jatuh terjerembab dengan luka trauma yang begitu perih.

Namun, selalu suami ku mengingatkan untuk menangis sehari saja, selanjutnya teruslah berjalan..

Status BBM suami ku 28 Okt 2012 dan terus bertahan hingga berminggu-minggu kemudian

Namun akhirnya, sebagai perempuan yang didominasi perasaan dan emosi, nyatanya aku tak mampu tetap tegar dan langsung cepat bangkit dari trauma itu. Selama beberapa hari, rasanya hidup ku tak tentu arah. Luapan emosi yang tak terkendali hingga mengganggu keharmonisan rumah tangga. Sikap ku yang belum bisa menerima kenyataan menjadi semakin mengganggu. Setiap hari, aku hanya bermain dalam pikiran negatif.

Hingga pada 20 November 2012, aku harus menerima konsekuensi dari perubahan sikap ku itu. Sakit yang belum sembuh itu nyatanya harus bertambah sakit dengan satu kenyataan lagi. Benar-benar hancur rasanya..

Pertengkaran demi pertengkaran.. Rumah kami jadi benar-benar dingin.. semua berlangsung hari demi hari.. Hingga kami sama-sama lelah sendiri.. dan kami mulai membicarakannya.

Kembali, sebagai perempuan.. banyak logika yang tertinggal di balik luapan emosi.. pandangan ku sudah benar-benar buram oleh cobaan yang bertubi-tubi ini..

Tapi tidak bagi suami ku…

BBM dari suami di Jumat pagi..

Dibalik sikap diamnya selama ini, aku tak pernah menyadari, cintanya begitu besar. Hanya bisa menanggis membaca ini. Saat aku mulai lelah menghadapi cobaan, dia tak pernah sedikit pun berhenti mengajak ku terus dan terus memperindah rumah tangga kami.

Dibalik 2 Teguran dari ALLAH SWT dalam 2 bulan berturut-turut ini, sebenarnya nikmat dan rezeki mana yang ku dustakan… Astaugfirullah..

‘DARA’

Malam minggu kemarin (17/11), sepulang dari Jogja dan hujan, setelah beberes barang bawaan dan mandi, akhirnya aku dan Kung bisa selonjoran santai di depan TV. Bermula dari nonton film di Fox disambi mainan hp, baru kita tahu kalo ada konser NOAH di RCTI. Jadilah ganti channel. Sebagai pengagum lagu-lagu Peterpan, aku dan Kung cukup terhibur dan nostalgia dengan lagu-lagu lama. Menurut kami, lagu Peterpan masih lebih ‘berkelas’ dari lagu-lagu baru NOAH. Dari segi musikalitas yang lebih kompleks dan lirik yang lebih ‘berat’ dan ‘misterius’. Berbanding terbalik dengan single pertama NOAH ‘Separuh Aku’ yang liriknya (menurut kami) terlalu lugas dan gamblang.. ga misterius lagi deh.. hehe..

Well, jadilah kita nonton sambil komentar sana-sini.. Bahkan, ketika mereka memainkan single terbarunya ‘Hidup Untuk mu Mati Tanpa  mu’ (bener kan ya?), Kung sengaja pindah channel.. Karena katanya ‘ini lagu gak banget ya..’

Setelah bolak-balik ganti channel, akhirnya balik lagi ke RCTI, dan ternyata lagu lama Peterpan lagi, tapi lupa lagu apa. Kung sempet bilang, ‘Ini kapan Bintang Di Surga nya..’, hihi.. Bintang Di Surga memang lagu favorit Kung..

Selesai lagu itu, masuk lagu selanjutnya adalah ‘Dara’, single solonya Ariel yang dia buat saat masih di penjara.

Kung tiba-tiba nambah volume tv.. jadi kenceng banget… jelas kaget lah.. kirain nunggu Bintang Di Surga, ini kenapa ‘Dara’ dikencengin..

Me : Ih… kanget.. kenceng bener.. kenapa sih..

Kung : ya… kalo Ariel bikin lagu ini buat Luna Maya, aku buat istri ku..

*hening*

Dara jangan kau bersedih
Ku tahu kau lelah
Tepiskan keruh dunia
Biarkan mereka, biarkan mereka

Tenangkan hati di sana
Tertidur kau lelap
Mimpi yang menenangkan
Biarkan semua, biarkan semua

reff:
Kurangi beban itu
Tetap lihat ke depan
Tak terasingkan dunia
Dua jiwa yang perih

Masih ada di sana
Untuk kita berdua
Dalam hati yang menyatu
Tempat kita berdua

Dara jangan kau bersedih
Ku tahu kau lelah
Tepiskan keruh dunia

Sebagai istri dari seorang lelaki yang sangat tidak romantis, tiba-tiba ‘dibeginikan’.. rasanya kok ga karuan.. 🙂

Tapi satu yang pasti, setelah kembali dapat ujian dari ALLAH SWT sebulan yang lalu, dan tetiba suami mengungkapkan perasaannya lewat lagu begini.. aku makin percaya, seberat apa pun beban ini, dia selalu ada untuk ku.. Dan sejak kejadian sebulan lalu itu, sejak hari H kejadian (28/10), dia tak henti-hentinya mengingatkan ku..

‘Teruslah berjalan, Neng.. terus lah melihat ke depan..’

Borong Cokelat Monggo

Berawal dari banyak nya obat yang harus diminum suami saat masa penyembuhan, dia ga kuat sama aroma pahit obat yang suka mendadak muncul di tenggorokan. Jadilah suami request untuk dibeliin cokelat SilverQueen.

Eh, pas mudik ke Jogja 4 hari (long long weekend itu) .. suami ngajakin ke Pabrik Cokelat Monggo di Kota Gede.. kirain ya, mau beli 1 atau 2 bungkus aja… Ga taunya segini banyak. Buat stock katanya.. Haihhh…

Kalo udah gini sih istri seneng-seneng aja… cumaaa… *ga mau liat timbangan*

My – Long Distance Relationship

Akhirnya, takdir membawa ku dalam suatu keadaan yang dari dulu aku hindari. ‘Long Distance Relationship’ (LDR). Hubungan jarak jauh yang hampir semua pasangan di dunia ini benci untuk menjalani. Termasuk aku.
Ya.. walau pun ‘cuma’ Jogja – Jakarta, jarak yang sebenarnya ‘tidak seberapa’ dibandingkan dengan pasangan lain yang mungkin harus LDR beda negara dan lintas benua.

Dulu, aku menghindari LDR jelas karena ketakutan dan negative thinking yang selalu muncul.
Ketakutan utama adalah : TAKUT SENDIRI. Keadaan yang semula nyaman, kemana-mana selalu ada yang menemani. Saat aku butuh teman (atau butuh sopir .. ooopss), akan selalu ada seseorang untuk menemani. Takut untuk kesepian, walau.. sebenarnya masih banyak teman-teman lain. Dan walau sebenarnya, it’s okay to do everything alone. Toh, sebelum punya pasangan pun aku lebih sering melakukan banyak hal sendiri. Kemana-mana sendiri atau bersama teman-teman cewek yang tentu lebih bebas, ramai dan fun! Hal seru seperti itu pun bisa terlupa hanya karena ketakutan kita yang lebih besar. Ketakutan untuk sendiri itu tadi. Tapi setelah menjalani, ternyata ketakutan itu hanya karena faktor kebiasaan saja. Sudah terlanjur terbiasa ditemani. Tapi bukankah semua juga akan berubah? Keadaan pasti akan berubah, roda akan berputar. It’s OK to be alone, dear!

Just remember.. maybe you are alone, but NOT lonely.

Hal kedua yang mengganggu LDR adalah tentu saja pikiran negatif dia di sana akan bertemu ‘someone new’, akan jatuh cinta dan berpaling. Dan penyebab utama adalah kurangnya rasa percaya satu sama lain. Memang tak bisa dipungkiri, rasa percaya itu mahal dan susah sekali dimiliki. Rasa Percaya itu seperti kertas, sekali diremas akan membekas selamanya dan sulit dihaluskan lagi.

Tapi juga bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Hal pertama yang dipastikan adalah status hubungan juga. Apa tujuan hubungan ini. Kalau cuma main-main (atau dia yang terlihat main-main dan tidak serius) ya sudah. Santai saja jangan terlalu dipikir berat.
Tapi kalau memang status hubungan sudah serius dan memang punya tujuan pasti, secara otomatis rasa percaya itu akan muncul sendiri. Kemantapan hati bahwa, siapa pun yang dia temui di sana, dia bisa dipercaya untuk menjaga hubungan ini. Begitu juga dengan kita yang ditinggal. Bukan berarti kita harus pasang kacamata kuda kan? Tetap bergaul dan memperluas pertemanan, dan ketika bertemu dengan ‘Makhluk menggiurkan’ lainnya, pastikan kita
bisa tetap menjaga hati dan jaga tingkah laku. (kalau jaga mata emang susah sihh ya,,, :v )

Bicara soal kendala? Banyak. Dari pengalaman ku kendala yang sering terjadi adalah salah paham saat telepon atau sms. Faktor utama penyebabnya adalah capek dan kondisi yang tidak diketahui masing-masing. Jadinya hal sepele pun bisa jadi bahan pertengkaran. Biasanya setelah itu akan ada penjelasan panjang lebar dan tentu saja harus ada salah satu yang mengalah.
Kendala lain seperti sinyal sedang jelek, pulsa habis di saat penting, sms lupa dibalas, ditelepon malah ketiduran, dan beberapa hal sepele lain yang bisa menyebabkan berantem. Padahal kalau hal-hal tersebut terjadi saat kondisi tidak sedang LDR maka akan biasa saja. Jelas sekali bahwa penyebabnya : K.A.N.G.E.N

Walau pun di sini aku menulis tentang pengalaman ku menjalani LDR, tapi aku TIDAK AKAN memberikan tips menjalani LDR. Aku bukan ahlinya.
Aku hanya akan berbagi apa saja yang aku dan Kung lakukan selama LDR.

RAJIN KOMUNIKASI!
Boros? ohh tidak bisa (*gaya Sule)… Kebetulan (atau memang sudah ditakdirkan) sejak pertama kenal Kung akhir 2005, tenyata kita memakai nomor handphone dari provider yang sama. Dan sampai sekarang tidak pernah ganti. Keuntungan memakai nomor dari provider yang sama jelas adalah : tarif lebih murah. Dan lagi dengan semakin ketatnya perang tarif antar provider maka mereka berlomba-lomba menurunkan harga dan menambah bonus. Provider yang aku dan Kung pakai (saat ini) sedang ada bonus sms super banyak, bonus sekian jam telepon gratis, internet murah, dll. Itu jelas menguntungkan kita yang menjalani LDR, karena komunikasi itu super perting.
Belum lagi kemudahan teknologi informasi via internet seperti Facebook, Twitter, YM, Gtalk, dll. Bayangkan kalau kita hidup di jaman belum ada kemudahan teknologi itu dan harus LDR dengan pasangan kita. Hemm..

JUJUR DAN LAPORAN!
Laporan di sini bukan yang harus laporan setiap menit lagi di mana, dengan siapa, ngapain. BUKAN ITU. Aku dan Kung sudah terbiasa selama beberapa tahun ini selalu cerita tentang apa pun yang terjadi dan bertemu dengan siapa pun.. (Ssst.. bahkan saat kita masing-masing bertemu dengan mantan, kita langsung saling cerita). Bukannya tanpa privasi, tapi antisipasi dari pada kita dengar dari orang lain dan malah sakit hati. Toh selama kita jujur dan ‘enggak neko-neko’ tidak akan ada apa-apa kan. Kebiasaan sharing ini lah yang menjadikan kita selalu punya bahan obrolan seru kalau telepon malam hari sebelum tidur. Itu juga yang akan membuat aku secara tidak langsung kenal dengan teman-temannya di sana. Dia cerita tentang teman kantornya si A yang begini, si B yang begitu, futsal sama si C, ditebengin pulang sama si D,dll. Kebiasaan jujur dan selalu cerita ini yang semakin lama menumbuhkan rasa percaya ke pasangan. Kebiasaan cerita atau ‘laporan’ ini pun akan muncul sendiri tanpa ditanya atau diminta cerita. Jadi jangan bayangkan kami yang selalu mengawasi dengan telepon atau sms ‘Lagi dimana? sama siapa? ngapain?’ .. no no no.. ‘laporan’ itu muncul sendiri dari masing-masing. Langsung saja cerita tanpa diminta. Kalau tidak cerita? ya berarti seharian ini tidak ada hal penting alias ‘hari standar’ aja.

QUALITY TIME
Karena hanya Jogja – Jakarta yang jaraknya ‘tidak seberapa’, Kung selalu menyempatkan ke Jogja sebulan 2 kali. Biasanya Jumat malam dari kantor langsung ke stasiun, Sabtu pagi sampai Jogja, Minggu sore balik ke Jakarta lagi. Capek? Jelas. Tapi itu terbayar dengan quality time yang kita lewati sepanjang hari Sabtu itu. Manfaatkan waktu yang hanya 1 hari itu untuk hal-hal yang positif dan menambah kualitas hubungan, bukan malah berantem.

KESABARAN TINGKAT WAHID
Pernah nih, Sabtu pagi aku jemput Kung di stasiun, katanya dia kecapekan banget, di kereta pun tidak bisa tidur. Jadilah begitu sampai di kos adiknya, dia tidur seharian. Jelas aku kesel dan dongkol. Dikangenin malah tidur seharian. Tapi terus aku pikir lagi, kalau cuma mau tidur dia pasti tidak akan jauh-jauh ke Jogja, keluar duit banyak juga. Pasti saat itu dia benar-benar capek. Jadilah aku memaklumi kondisi dia. Toh masih ada hari Minggu setengah hari sebelum sore berangkat lagi ke Jakarta. Walau pun benar-benar berat melepaskan. 🙂

IKHLAS DAN PERCAYA
Ikhlas menjalani ‘skenario’ yang diberikan Allah dan percaya bahwa ini pasti hal terbaik untuk kita sekarang yang akan bermanfaat di masa depan. Ini bukan tentang materi. Banyak alasan pasangan harus LDR. Kuliah, bekerja, ikut orang tua, dll. Jadi yang aku maksud dengan manfaat untuk masa depan bukan sekedar materi, tapi metamorfosa sikap kita selama menjalani LDR ini. Karena kita dituntut untuk lebih sabar, lebih bisa percaya, tidak selalu curiga, selalu jujur. Dan dengan LDR ini juga, kita akan tahu dia benar-benar orang yang kita inginkan atau bukan. Bukan kah kita baru merasa memiliki setelah kehilangan?

Tapi.. kalau ditinggal malah merasa biasa saja, justru merasa bebas dan bisa lirik sana-sini… yaaa.. that’s the sign dear.. maybe s/he’s not the one for you.. 🙂

So, ini saja secuil tulisan tentang LDR ku yang entah sampai kapan. He he he..

Dan Kung, kalau kamu baca ini, i want to sing your favorite band’s song :

I wanna wake up where you are,
I won’t say anything at all,
So why don’t you slide..”
(Goo Goo Dolls – Slide)
***

Happy LDR guys (buat yang menjalani)..

Berat? Iya!

♥♥♥

*pictures : from Google

Tentang Curhat


Berangkat dari pengalaman pribadi aku menulis ini. Tanpa bermaksud menyindir siapa pun. Tapi kalau ada yang tersindir walau tidak berhubungan dengan aku, ya semoga bisa jadi bahan koreksi.

Sore tadi aku kok dongkol sekali dengan satu keadaan.. rasanya pengen marah-marah, bahkan pengen nonjokin orang. Tapi karena takut didatangi wartawan infotainment, akhirnya aku urungkan niat itu. Aku memilih online saja, YouTube-ing dan browsing lainnya.

Tiba-tiba seorang teman menyapa di YM. Dan ku akui, dia salah satu teman yang –lumayan- dekat dengan ku. Bermula dari saling menyapa dan bercanda, aku bilang sedang kesal. ‘Pengen nonjok orang’ – kira-kira seperti itu chat ku. Kemudian dia bertanya ada apa? Cerita aja, mungkin bisa bikin lega. Aku senang sekali karena memang sedang butuh teman curhat. Plus.. dia pun lumayan dekat dengan ku. Dan aku mulai curhat ..

Dengan semangat menggebu, aku mulai mengetik dengan kecepatan 250KM/jam masuk gigi 3. Sudah sesak hati dan pikiran pengen segera ditumpahkan .. tapi apa yang terjadi??

Hoho .. sungguh di luar dugaan. Si teman yang lumayan deket ini sering memotong pembicaraan dengan membandingkan masalah aku dengan masalah dia.

Sekali .. ok. Dua kali .. okeee. Tiga kali .. heyyy. Empat kali .. lho?? Lima kali .. woiii yang curhat ni sapa sihhh…!!

Bukannya lega, aku justru tambah kesal. Would u please listen to me?? I just need to be heard..

Sebagai contoh (bukan percakapan sebenarnya – hanya sekedar contoh)
Aku (A) : aku capek nih.. tiap hari keujanan .. jadi meriang ..

Teman (T) : iya, aku juga .. tiap hari kedinginan. Jadi ga fit. Kalau udah gini mamah ku pasti nyuruh aku suntik vitamin, minum suplemen bla bla bla

A : Kenapa ya tiap kali aku nyapa si B selalu dicuekin?
T : aku juga pernah gitu, aku dulu nyapa si x tapi dia trus buang muka gitu.. padahal waktu itu ya.. bla bla bla ..

A : bingung ngatur duit nih .. belum gajian udah abis mulu ..
T : aku sih ga bingung ya.. saoalnya aku ga terlalu doyang belanja, aku paling keluar duit buat bla bla bla..

A : kesel deh.. lagi ‘dapet’ gini cowok ku selalu aja bikin aku tambah kesel

T : cowok ku juga gitu, ga mau ngerti. Pernah ya dulu aku lagi dapet trus dia ditelp ga jawab bla bla bla..

OKE .. how annoying, right .. when we need someone to share or help our problems, then we just get their problems ..

Bahasa kasarnya, urusan mu!

Tapi pasti hal itu akan berbalik pada ku karena aku yang memulai sesi curhat itu.

Anyway, kembali ke masalah curhat tadi. Aku pernah dapet recommend buku dari pacar, ‘Skill with People’ karya Less Giblin. Di sana banyak diajarkan inti dari menghadapi seseorang. Bahwa, setiap orang lebih cenderung membicarakan diri sendiri. Membicarakan hidupnya sendiri. Tiap orang kurang berminat dengan hidup orang lain. Maka, jika ingin membuat seseorang nyaman coba pancing pembicaraan yang selalu mengarah ke dirinya.

Dan kembali (eheemm..) pacar saya mengajarkan, jika ingin menjadi sahabat yang baik.. ketika sahabat sedang curhat fokuskan pembicaraan padanya. Kesampingkan dulu masalah kita. Giringlah bola pembicaraan selalu ke gawangnya. (cieee .. bahasa dalam rangka Piala Dunia ^_^ ). Dia pasti akan merasa nyaman dan akan sangat lega. Meskipun kita tidak bisa membantu menyelesaikan masalahnya, setidaknya dengan menjadi pendengar yang baik dan meluangkan waktu sebentar saja untuk menjadikannya center of the world itu akan sangat melegakan hati.

Dan itu sudah aku buktikan. Beberapa teman sudah pernah berterimakasih karena aku sudah mau mendengar dan membantu mereka membahas masalah yang bahkan aku sendiri tak tahu. Aku hanya fokus pada masalah mereka, tak menyinggung apapun dari hidup ku. Pokoknya fakusnya Cuma dia dia dia dan dia –si pencurhat. Dan sedikit toleransi itu ternyata sangat berarti buat beberapa teman saya itu.

Walau pun aku tidak terlibat dan tidak membantunya mencari jalan keluar. KARENA MEREKA HANYA BUTUH DIDENGAR. BUKAN DIAJARI ATAU DIDIKTE UNTUK MELAKUKAN INI ITU. BUKAN JUGA DIBANDINGKAN DENGAN KEHIDUPAN KITA. They don’t even care ‘bout your life. Mereka sudah cukup dewasa. Mereka hanya butuh DIDENGAR.
Bukankah setelah mengeluarkan unek-unek kita cenderung lebih lega? Meskipun tidak menyelesaikan masalah yang terjadi, tapi setidaknya melegakan hati dan bisa membantu mencari jalan keluar dengan pikiran yang lebih jernih.

That’s why guys…. bantulah teman kalian untuk sekedar bercerita, mengeluarkan unek-unek tanpa harus dipotong dengan membahas kehidupan kalian. Itu nanti ada waktunya sendiri. Luangkanlah 10-30 menit hanya untuk membahas masalah teman mu saja. Jangan campurkan dengan cerita dari hidupmu, pasanganmu, keluargamu, kerjaanmu, dll. Percayalah.. akan ada waktunya sendiri.

Pada akhirnya, kembali pada kata ‘curhat’ – curahan hati. Mencurahkan isi hati. Membicarakan isi hati. Berbicara .. dan hanya butuh didengar.

Karena.. ketika si pencurhat butuh bantuan .. mereka akan meminta.

So, bisa jadi tempat curhat yang baik??

God! I just need to be heard ..