Kehebohan Suami Nonton ‘5CM’

Ini sebernarnya postingan rada basi ya.. dan aku bukan mau cerita atau rekomendasi filmnya. Cuma mau cerita moment langka dan mood swing-nya suami ku ‘cuma’ gara-gara sebuah film Indonesia yang biasanya dia paling males nonton.

Jadi, suatu sore di akhir bulan November 2012, suami tetiba ngajak nonton film ‘5cm‘. Waaaa… ga biasa nih. Sebagai istri yang mengenalnya 6 tahun  lebih, ini jelas kejadian tidak biasa. Karena, suami ku ini cuma suka film action. Ga suka film drama – karena katanya banyak ngobrolnya aja bikin ngantuk. Ga suka film romantis – karena cuma menjual mimpi dan gombalan. Ga suka film horor – tanpa ada alasan🙂 , film komedi macam Adam Sandler, Jack Black, Ben Stiller gitu masih mau nonton tapi cuma di TV atau DVD. Kalau di bioskop cuma mau nonton film action. Seru jedar jedornya. So, jelas heran dong aku liat dia tetiba so excited pengen nonton film drama macam ‘5cm’ gitu.

5cm

Ternyata alasan suami karena film ini syutingnya beneran di Semeru dan sampai ke Ranu Kumbolo dan Mahameru. Weeee… ini nih.. bau-baunya udah ga enak. Suami ku ini waktu SMA tergabung di PA (Pecinta Alam), jelas lah tiap bulan pasti naik gunung (lebay). Walau belum terlalu banyak gunung yang dia daki, baru Gunung Ceremai, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Penanggungan dan Gunung Sindoro, tapi kalau masalah frekuensi sih cukup bisa diandalkan. Dia sudah ‘terlalu’ sering (sampai lupa udah berapa kali) naik ke gunung Ceremai, ya karena dia SMA di Cirebon. Naik Merbabu 3 kali dan Lawu 2 kali. Mulai akhir masa kuliah intensitas naik gunungnya berkurang drastis. Terakhir naik gunung sekitar tahun 2007, ke Sindoro tapi gagal sampai puncak karena dihadang kabut tebal dan rombongan memutuskan turun. Sampai sekarang dia belum naik gunung lagi. Makanya dia masih penasaran untuk naik ke Rinjani dan Semeru.

Nah.. jadilah film ‘5cm’ ini semacam ‘pemanasan’ untuk bisa ke Semeru, liat Ranu Kumbolo, Ranu Pane, Tanjakan Cinta, Kali Mati, Ladang Edelwies dan Mahameru. Padahal ya belum tahu kapan bisa benar-benar ke Semeru. Hihihi..

Oke, back to the movie..

Suatu hari sepulang kerja, suami cerita kalau dia baru baca berita tentang film itu di salah satu situs berita online. Tadinya dia pikir syuting di Semeru itu cuma di kaki gunung saja. Eh, ternyata beneran naik. Kebetulan, malam harinya di salah satu acara talk show di TV swasta, menghadirkan para pemain film ‘5cm’ sekaligus promo film. Makin banyak bocoran cerita dari proses syuting hingga pengalaman selama di Semeru plus trailer film yang ditunjukkan, makin penasaran lah suami ku tercintah ini. Dia sampai berkali-kali bilang, ‘Harus nonton ya Neng.. pokoknya nonton’. Aku sempat menggoda, ‘Eh.. itu film drama lho.. banyak ngobrolnya.. ga ada tembak-tembakannya..’. Dia jawab, ‘Aku ga peduli filmnya tentang apa, ga peduli yang main siapa.. aku cuma mau liat Semeru, Ranu Kumbolo sama Mahameru!’. Ehmmm… OK.

Film ini serentak tayang tanggal 12 Desember 2012. Malamnya sebelum hari H, suami udah mulai cerewet. Mau nonton yang jam berapa, ga usah masak ya… makan di sana sekalian aja, dll. Eh.. tunggu dulu… Ini beneran mau nonton di hari pertama? Oh… ini bukan suami ku banget. FYI, kami ga pernah nonton film di bioskop di hari pertama. Alasannya jelas, males antri berdesak-desakan. Sekali antri panjang dulu waktu nonton Transformers 2 (Revenge of the Fallen) tahun 2009 atau 2010 gitu. Aduh.. ga mau lagi. Film box office macam The Avengers, The Dark Knight Rises, Iron Man 2, The Raid, dll semua kita nonton di akhir-akhir masa tayang. Saat bioskop udah sepi, atau paling tidak ga ada antrian menggila sampe ke luar gedung. Eh, tapi ini .. film Indonesia, drama dan suami mau nonton di hari pertama?

Di hari H, sekitar jam 8 pagi aku cek jadwal tayang film di web 21cineplex. Tapi betapa kecewanya, di Solo belum tayang! Waduh.. katanya serentak di seluruh Indonesia. Iseng aku cek kota-kota lain. Dari Sabang sampai Merauke, sudah tayang semua kecuali Solo dan Ambon. Aneh… Waktu aku bilang itu ke Suami, dia juga jelas kecewa. Dia bilang, ‘Belum update kali web nya.. nanti jam 10 coba lagi ya..’. Jam 10 – 12 siang aku coba cek berkali-kali hasilnya nihil. Tetap Solo belum tayang ‘5cm’. Kesel dan kecewa.

Di saat masih kecewa itu, ada teman di BBM (Blackberry Messenger) yang pasang DP foto antrian di Studio 21 Ambarukmo Plaza Yogyakarta. Aku kirim gambar itu ke suami. Aku bilang, ‘Yogya udah.. mau ke Yogya aja besok Jumat?’. Suami ku justru protes, ‘Ya ngapain pake ke Yogya.. promonya kan serentak di seluruh Indonesia. Lagian Solo kan ada Studio 21 ada XXI. Seharusnya pangsa pasarnya besar kan.. Bandingkan dengan Cirebon yang hanya ada 21 di Grage sama Hero itu pun sepi! Masa di sana udah tayang di sini belum..’. Haduh… suami kalau udah ada maunya memang keras kepala gini ya.

Ya mau gimana lagi, kalau nyatanya Solo belum tayang.

Sekitar jam 1 siang, suami kirim WA gambar ini :

5cm

Waaa… kok bisa…

Ternyata eh ternyata, suami penasaran. Dia iseng cari nomer telepon Studio 21 Solo Grand Mall, langsung telepon tanya kapan film ‘5cm’ tayang. Hasilnya mengejutkan.. Film itu sudah tayang dan memang belum diupdate di web. Rrrrrggggg…

Suami langsung meluncur ke 21 beli tiket. (Untung pas jam makan siang ya..). Pas tiket sudah di tangan dan fotonya sudah dikirim aku, aku bilang, ‘Kung.. itu bukannya depan sendiri ya?’. Jawabnya, ‘Enggak ah… kata mbaknya belakang sendiri kok..’

Walahh.. dari pada debat ga jelas mending nunggu nanti malam aja di TKP.

Malamnya, berangkatlah ke 21. Studio 21 Solo itu ada di Lantai 4 Solo Grand Mall. Selama jalan ke sana kita bareng sama rombongan ‘anak gunung’. Rameeee … banget.. keliatan dari gaya-gayanya. Celana gunung yg kantongnya banyak itu, sandal gunung, pada kembaran pakai kaos Mapala (lupa tulisannya apa) plus bawa tas gunung yg gede itu juga! Dari lantai dasar kita udah curiga, ini pada mau nonton ‘5cm’ kali ya.. eh,, ternyata bener. Malah rombongan PA itu pada foto di poster ‘5cm’ yang besar di depan pintu 21.

While, suami yang penasaran mengajak ku ke tempat penjualan tiket, cek nomer kursi kita jadinya di mana. Dan benar saja… itu depan sendiri! Wekkkk… mana enak nonton bioskop depan sendiri.. Muka suami langsung BT. Kecewa. Dia sempet bilang, ‘Mendadak jadi males gini Neng… tadi waktu beli kata mbaknya itu belakang sendiri..’. Aku sempet nawarin, ‘Gimana? Mau dibatalin? Jual aja tiketnya tuh banyak yang kehabisan kan.. kita nonton besok aja?’. Suami ga jawab apa-apa, tapi wajahnya jelas sangat kesal.

So, setelah pertimbangan ini itu akhirnya tetep jadi nonton juga. Not bad lah duduk depan sendiri. Walau cewek sebelah ku super berisik dan norak.

Terbukti, selama film suami ga terlalu menikmati awal cerita, dia baru terlihat excited ketika adegan mereka memulai perjalanan naik kereta ekonomi lanjut naik mobil sampe ke Semeru. Dan seterusnya, dia lebih terhibur dengan pemandangan Semeru yang SubhanaLLAH indahhhhh… banget! Udah banyak yang nonton filmnya kan.. Ga perlu aku ceritain lagi ya.. Tapi yang pasti kami puas nontonnya.  :)

Nonton film ini seperti tidak asing. Selama 6 tahun kenal suami, selama itu pula dia sering bilang ke aku,

‘Neng, hidup itu ibarat naik gunung. Naik gunung itu yang penting bukan saat sampai di puncak. Tapi justru proses pendakiannya. Kamu akan terus mendaki membawa berat beban, medan terjal. Di situ mental kamu akan terbentuk, Di situ kamu akan diuji oleh alam. Kamu harus kuat menahan berat, dingin, kering, terjal, licin. Tapi ketika sampai puncak, kenikmatannya tak tertandingi. Begitu juga hidup. Suatu saat ketika kamu sukses, kamu akan dengan bangga menceritakan proses perjalanan mu yang penuh liku. Dan itu pasti indah sekali.’

Dulu, sekitar tahun 2007, usai wisuda suami dan temannya (Dodo) pernah mengajak ku naik ke Bukit Turgo. Kata mereka, ‘Belajar dulu naik bukit, Ta’ .. Hihi.. itu pun masih dihinadina selama perjalanan, ‘Kalau ga kuat turun aja,Ta’ .. Haduh.. Ya memang ‘cuma’ bukit sih. Dan tingginya ‘cuma’ 1200 mdpl. Kita naik pagi jam 8 pagi turun jam 3 sore. Itu pun puncak Merapi tertutup awan. Huff…

Satu-satunya foto yang tersisa, lainnya di komputer lama yang sekarang entah kemana.. :(

Satu-satunya foto waktu naik Turgo yang tersisa, Lainnya di komputer lama yang sekarang entah kemana..😦

So, aku bersyukur menikahi ‘anak gunung’. Jauh sebelum film ini, dia sudah menerapkan banyak prinsip-prinsip naik gunung dalam kehidupan kami.

Suami pernah bilang, ‘Neng, nanti kalau kita punya anak, ga peduli cewek atau cowok aku ajakin naik gunung ya..’. –Me, nodded.

***

Eh, belum selesai. Weekdays menjelang libur Natal kemarin:

Suami : Neng, besok weekend nonton maraton yuk..

Me : Asikkk.. apaan? Habibie Dan Ainun? The Hobbit? Silent Hill?

Suami : Bukan, 5cm sama The Hobbit.

Me : LAGI???

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s