Best Friend [?]

Belakangan ini, dada rasanye nyesek banget.. Perang dingin yang entah siapa yang memulai lebih dulu. Kalau teman-teman baca status facebook aku belakangan ini, isinya penuh emosi yang tertuju buat seorang sahabat.. Tadinya mau cuek, mencoba memaklumi, sampai akhirnya batasan kesabaran yang aku lebar-lebarkan sudah tak punya sisa tempat lagi.

Pecah..

Tapi aku mau apa? Mendatangi terus nantang berantem? Walah.. Atau cari dukun buat nyantet? Ga bangettttt… Akhirnya di sela-sela rutinitas, aku cuma bisa curhat di Facebook dan Twitter.. Tapi kok bukannya dia sadar, malah semakin ngelunjak.. Dan sebagai manusia biasa, aku juga kok jadi kepancing untuk nulis status ‘rada ketus’.. Sampai banyak teman yang Tanya, ‘Siapa sih??’

No… aku ga akan nyebut namanya.. Karena bagaimana pun she will always be my friend.

Cuma jujur ya.. SAAAAKKKKKIIIIITTTTTT…..!!!!

Aku ga akan terlalu detail menyebut cirri-cirinya.. Aku hanya akan cerita saja. Kami bersahabat ya… lumayan lah.. Ga terlalu lama tapi juga ga terlalu baru juga.Aku mengenal dia dari salah satu teman juga. Dari ngobrol basa-basi, lama-lama banyak kecocokan dari selera musik, film, selera makanan dan lain-lain, jadilah kami sepasang teman baru. Walau ga tiap hari ketemu karena kesibukan dan jarak, tapi teknologi membuat kita tetap dekat.

Selayaknya teman dekat, kami sering saling curhat tentang hidup dan masalah masing-masing. Awalnya semua terlihat begitu normal, sampai umur pertemanan kami di atas 1 tahun aku mulai merasakan dominasi gak sehat dalam pertemanan kami. Yang paling menonjol adalah saat aku curhat, dia selalu menyela (halah… ambigu..) maksudnya memotong cerita ku dan membanding-bandingkan dengan kisah hidupnya. Tentang hal ini sudah pernah aku tulis di blog ini sebelumnya (bisa dibaca di sini).

Aku mulai kesal. Menurut ku, dominasinya udah kelewatan.

Tapi, beda jika saat dia yang ada masalah. Dia selalu menghubungiku ga tau waktu. Kadang tengah malam buta. Sekedar untuk mendengarkan keluh kesah atau meluapkan kekesalannya. Seperti juga saat dia mengalami kekerasan oleh mantan pacarnya, dia telepon aku sambil nangis dan maksa ketemuan. Saat itu aku masih ada keperluan di tempat lain, tapi dia terus menangis dan memaksa ku bertemu. Ketika akhirnya aku datang ke rumahnya, dia nangis sejadi-jadinya. Dan aku di sana sampai malam, sampai paginya pun dia masih minta aku ketemu dia. ‘Temenin aku refreshing yuk..’ katanya waktu itu.


Ya sudah, akhirnya kami jalan-jalan ke mall, makan bakso, ke butik dan lain-lain. Intinya, dia senang. Dan aku ikut senang.

Pun ketika dia akhirnya menikah dengan lelaki yang lebih baik dari pada mantannya itu. Walau pun aku tidak banyak terlibat di pernikahannya, tapi persiapan pernik-perniknya banyak meminta bantuanku. Seperti cari Rias Manten, Survey gedung, dan pernik-pernik kecil seperti souvenir dan baju-baju ‘malam pertama’. Waktu aku tanya kenapa ngurusinnya ga sama calon suaminya, jawabannya :‘Ga ah.. ga nyaman cari lingerie sama cowok.. lha piye? Ra gelem po ngancani aku??’


Wehh.. malah nyalahke.. ya wes..

Dan begitulah, dia menikah dan memulai hidup barunya. Tak banyak yang berubah. Kami masih sering curhat dan masih menyempatkan untuk jalan. Hingga dalam hitungan bulan, dia sudah hamil. Alhamdulillah.. kabar bahagia itu aku dapat dari… Facebook. Waktu aku sms ucapan selamat dan tanya kok ga kabar-kabar kalo udah ‘isi’, jawaban dia adalah.. ‘Sorry, ga ada waktu nih..’

Eeerrrgggg… Ok…

Suatu kali, di saat perutnya membesar, suaminya harus ke luar kota untuk beberapa hari. Dia minta tolong aku untuk mengantar check-up kandungan ke RS. Aku bilang aku ga bisa, karena memang sedang tidak bisa meninggalkan kerjaan (saat itu).

Aku pikir dia akan mengerti, ternyata justru aku mendapat sms ‘kurang enak’ yang intinya membuatku merasa bersalah karena ga bisa nganter dia ke RS. Kekesalannya berlangsung beberapa hari, sampai ditulis di status Fb seolah dia orang paling menderita sedunia. Ketika dia melahirkan, aku mendengar kabar bahagia itu dari teman lain dan sudah berselang…3 hari.


Waktu aku menengok bayinya, dan ‘protes’ karena ga dikabari langsung, dia cuma bilang : kan udah aku upload fotonya di Fb.. kirain kamu tau..

Yaileehhhh… emang dikira aku yang 24 hours/7days a week ya mantengin Facebook.. ohh tidakkk…

Dan dimana dia waktu aku butuh bantuannya atau setidaknya saat aku butuh teman curhat? She’s never there..

Ketika aku memutuskan resign dari kantor lama dan banting stir jadi bakul, dia nyinyir ‘emang untungnya seberapa sih jualan begituan? Enakan juga jadi pegawai. Apa mungkin karena kamu ga mampu ya kerja di sana?’ – padahal ekspektasi ku saat itu adalah support dari seorang teman yang cukup dekat itu.. but, yahhh.. sudahlah.

Lalu, saat aku dan suami (masih calon waktu itu) membuat foto undangan nikah dengan konsep santai dan apa adanya. Yang dapet undangan nikah ku pasti tau dong ya.. Alih-alih pakai kebaya dan jas kami memilih pakai baju sehari-hari dan sandal jepit.. Berlokasi di Malioboro dengan segala kesederhanaannya. Dia nyinyir lagi dengan nada yang membuat kuping panas.. ga ekslusif lah, ga sopan lah, ga elegan lah.. Beda dengan undangan dia yang rapih, eksklusif, bergambar dia dan suami memakai kebaya dan beskap .

Tentang biaya nikah, aku konsultasi dengan dia karena sudah pengalaman.Maksudku, cuma mau tanya untuk alokasi dana yg optimal.. tapi tanggapannya?
‘Budget nikah mu cuma segitu? aku dulu abis Rp. 120 juta, buat bayar ini, itu bla..bla..’

hemmm.. ‘CUMA’ katanya?? iya sih… Alhamdulillah dia masih punya orang tua lengkap, orang kaya lagi.. Beda sama aku yang dari keluarga sederhana dan Bapak ku udah meninggal. Akhirnya aku ga nanya-nanya soal persiapan nikah lagi sama dia..

Saat menjelang detik-detik pernikahan, tanpa diet tak diduga berat badan ku turun 6Kg, mungkin karena stress, hampir semua aku urus sendiri dan sindrom pra nikah yang sempat menyerang. Baju nikahku harus dikecilkan 2cm hanya 5 hari menjelang hari H. Perias ku pun kaget karena semua sudah fix kecuali baju ku yang mendadak kedodoran itu.

Waktu aku cerita, dia menjawab, ‘turun 6 Kg kok tetep lemu.. ra kethok ki nek mudun 6Kg’

Well… Lagi-lagi aku Cuma bisa senyum..

Setelah menikah, aku harus ikut suami ke Jakarta. Ketika akhirnya aku positif hamil namun tak berlangsung lama dan aku keguguran, hati rasanya hancur lebur.

Beberapa hari Cuma nangis dan nangis, ngabarin keluarga dan teman-teman dekat. Saat yang lain menguatkan ku, menyuruhku bersabar dan mendoakan yang terbaik untuk ku, ehh.. teman ku ini malah nanya-nanya seperti polisi, kok bisa? Aku apain? Aku ga minum susu ya? Aku jatuh ya? Banyak lah pokoknya.. yang intinya, dia menyalahkan ku atas kejadian ini. Tambah remuk ati ku digituin sama temen sendiri.

1 minggu setelah keguguran, aku pulang ke Jogja untuk bedrest. Sementara suami kembali ke Jakarta dan kami LDR lagi. Selang beberapa hari, aku harus diopname lagi di salah satu RS di Jogja karena infeksi saluran kencing.

Masuk RS Rabu pagi, Rabu malam suami pulang karena khawatir dengan kondisiku. Si teman itu telepon aku hari Kamis pagi, sekedar tanya kondisi, diagnosis dokter dan beberapa hal lain.

Sampai dia tanya, : ‘Suami mu udah tau kamu opname?’ | ‘udah, ni udah di sini.’ | ‘Lha cepet banget nyampe Jogja?’ | ‘iya, semalem langsung cari tiket pesawat karena khawatir,’ | ‘Trus kerjaannya gimana?’ | ‘Dia ijin sampai Jumat, Minggu sore baru balik Jakarta lagi,’| *hening* lalu…

‘Enak ya, punya suami yang cinta keluarga, dibela-belain naik pesawat segala, kan ga murah tu ongkosnya.. suami ku mah pulang kerja aja kadang molor. Eh, atau karena kalian masih pengantin baru ya? Jadi masih hot-hotnya..’

Dalam kondisi perut nyeri, tangan diinfus, mendengar nyinyiran seperti itu apa lagi keluar dari teman DEKAT sendiri rasanya wow sekali…..

Lebaran tahun ini, suami menawarkan untuk beli baju lebaran, aku bilang mau beli buku aja.. Kebetulan my favorite author Dewi Lestari launching buku baru.

Waktu aku cerita ini ke temen ku itu, dia bilang ‘mbok ra sah sombong… umuk men nek iso tuku klambi lebaran..’

Tuuuuiiiiingggg… ini maksudnya apa ya…??

Mulai dari itu aku jadi jarang curhat ke dia. Bahkan saking tersinggungnya, aku menjaga jarak dengannya.

Lalu aku yang baru kenal aplikasi Foursquare (udik ya..) lagi seneng-senengnya check in sana sini, foto, share ke sosmed.. Ndilalah (halah.. bahasa ne) aku harus ikut suami ‘jalan-jalan’ wira-wiri Jogja-Cirebon-Solo.. Sering check in sana sini deh.. makan di mana, jalan kemana.. Dia, si teman yang ternyata memantau ku itu, tiba-tiba menyapa plus nyinyir, ‘Enak ya.. jalan-jalan terus, hura-hura, ngabisin duit.. belum punya anak sih.. kalo aku kan duitnya udah buat beli susu anak.. kamu enak ga ada anak bisa hedon beli barang-barang mewah, makan di tempat mahal, bla…blaa..blaa..’


Weeeeettt… hellooo.. hedon? Barang mewah apa koh?? Tingak tinguk kayanya aku belum punya tuh barang mewah.. makan di tempat mahal? Waaalaahh,,, mung makan ayam berdua abis Rp.20.0000,- aja kok dibilang mewah..

Wah, pokoknya beberapa minggu ini, apa pun status ku di Facebook atau tweet ku hampir selalu dinyinyirin.. Entah kenapa dia..

Waktu aku cerita ke suami, dia Cuma bilang, ‘Ya udah.. mungkin dia ga terima dengan hidupnya sendiri.. ga bisa berdamai dengan keadaan, jadi nyalah-nyalahin orang lain.. dan kebetulan, kamu orang yang dekat dengannya.. dia itu justru kasihan,’


‘Diemin aja.. yang penting kamu ga kaya gitu..’ Cuma itu nasehat suami ku.Sampai tadi pagi pun, waktu aku nulis tentang MotoGP dia nyinyir karena karir Valentino Rossi yang jelek musim ini. Emang sih aku supporternya Vale. Dan memang dia sedang jelek musim ini, settingan motor yang tak kunjung ‘pas’ dan cidera bahu dan kaki yang masih sering mengganggu.. tapi kan ya.. aku ya tetap aku.. kenapa juga dia nyinyir seperti itu?? Rasanya tadi pagi itu emosihhhhh sekali…


Aku tak habis pikir, apa sih salah ku sama dia? Perasaan, aku selalu jaga omongan ke dia, ga pernah ngomong kasar atau hal-hal sensitive, berusaha bantu ketika dia ada masalah.. tapi kok.. balasannya gini ya…

Memang, sejak menikah intensitas untuk bertemu dengan teman-teman jadi berkurang.. Plus, aku juga harus pindah-pindah kota, tapi makasih buat teknologi yang menjadikan komunikasi lebih mudah.. Social Media, bbm, whatsapp, pingchat, YM, GTalk, bahkan sms dan telepon.. Tapi, kalo kemudahan itu hanya dipakai nyinyir kok sakit ya…

Sekarang aku di Solo, ikut pindah suami. Teman-teman mayoritas di Jogja dan Jakarta.. but I love you all girls..

Aku Kangen si Ratu brondong Sophie_Tobelly, Kangen Nita (dan her smart angel-Adifa), Kangen Tika (dan Nadine si metal baby girl), Kangen Riska (dan si mata belo’ Almer), Kangen Jeng Srikandi, Kangen Mba Cayi (dan Kael yang lucu), Kangen Sasya (kemana ya anak itu…!!), Kangen Indar si juragan tahu bakso, Kangen Linche (and baby girlnya yg tembem!), Kangen Ririn (dan Fadly yang menggemaskan), Kangen Apip Petite, Kangen Ntie di Lampung sana (and si ganteng Abin), Kangen Dina, Kangen Santi mamak e, Kangen Era Amel, Kangen Owoh, Kangen Asa (si jenius n tempat curhat plus lagu-lagu keren), kangen Betty, Kangen Sari, Kangen Anak2 Viva Cious (owalaaahh… jadul banget.. kangen guys..).. Kangen banyak lagi.. Kangen si itu dan si anu juga..

Tapi jarak bukan alasan dan sekali lagi, ada teknologi yang memudahkan. Semoga kalian semua sehat dan sukses di mana pun kalian berada..

Dan buat kamu, teman dekat ku yang sedang nyinyir ke aku… maaf, maaf kalau aku mengecewakan mu, maaf kalau kamu tidak nyaman dalam beberapa hal.. tapi selama kamu belum bisa berdamai dengan keadaan dan belum bisa berdamai dengan diri mu sendiri.. maka kamu akan terus menerus menyalahkan keadaan dan lingkungan.. jadi, lebih baik aku menyingkir dulu..

Biar waktu yang mendewasakan mu, biar waktu yang akan menjelaskan pada mu, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan..

I love you like before, dear.. but maybe, better that we break for a while…

Aku nulis ini bukan bermaksud pamer atau cari simpatik atau apalah.Cuma mau berbagi aja sama teman-teman dan saling mengingatkan, bahwa ga selalu apa yang kita inginkan akan kita dapatkan, dan ga selalu teman curhat kita rela dinyinyirin terus..
*gambar dipinjam dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s