Menjadi Istri…

Keputusan untuk menjadi istri aku pilih pada November 2010. Benar-benar sangat singkat dan tanpa berpikir panjang. Bermula dari kepindahan Kung ke Jakarta pada September 2010, dan Long Distance Relationship (LDR) yang harus kami jalani.2 bulan yang harus kami jalani dengan handphone dan internet sebagai penghubung kami bermuara pada suatu malam di sebuah coffeeshop. Pertemuan kami dengan 2 sahabat (Helga dan Tika) yang ketika itu baru saja melangsungkan pernikahan. Obrolan kami yang semula hanya tentang pekerjaan dan hal-hal ringan lainnya, akhirnya berganti tentang pernikahan. Suasana menjadi berbeda. Pernikahan, tidak pernah kami bahas sedalam ini.Keraguan masih sangat menghantui kami saat itu. Banyak faktor. Ekonomi, keluarga dan kesiapan kami sendiri secara mental untuk menjadi ‘Suami dan Istri’. Konsekuensi dan komitmen. Kewajiban dan tanggung jawab yang akan kita jalani nanti.


Tanpa sadar, tiba-tiba rasa di dada seperti pecah. ‘Pernikahan’. Suatu hal yang tidak pernah kami bicarakan hingga malam itu. Bahkan tidak terbersit di benak kami sore sebelumnya atau hari-hari sebelum itu.
Kung yang biasanya banyak bercanda, kali ini tampak serius. Sekilas aku melihat rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam pada satu titik kosong. Sosok tegas dan keras yang jarang aku lihat di kesehariannya.Helga terus bercerita tentang pengalamannya, kebimbangan dan keraguannya dulu. Hal yang wajar dialami setiap orang ketika mengambil keputusan untuk menikah. Tika pun memberi pandangannya sebagai perempuan. Jujur, aku tak pernah sekalut itu membahas ‘Pernikahan’. Biasanya kami sangat santai bahkan cenderung selengekan. Tapi malam itu, seperti ada yang menembus hati. Entah apa. Rasanya tak karuan.
Hingga jam menunjukkan pukul 22.00 WIB dan kami memutuskan pulang. Karena jarak rumah ku cukup jauh. Saat meninggalkan meja, saat kami menuju pintu keluar café, tiba-tiba Kung merangkul pundak ku dan berkata, “Kenapa disetelin lagu ini ya..”

Aku yang tadinya tak begitu peduli dengan lagu yang diputar di café itu akhirnya mulai memfokuskan pendengaranku. Lagu itu. Lagu ‘kebangsaan’ kami.

Lagu ‘You And Me by LifeHouse’.


Aku Cuma tersenyum. Kung kembali berkata, “Apa ini pertanda..?”
Dari ribuan lagu di playlist, mengapa lagu itu yang diputar pas di moment itu. Kebetulan? Mungkin. Tapi buat ku, tidak ada Kebetulan. Semua sudah ada dalam Skenario-Nya.

Malam itu, harusnya Kung mengantar ku pulang. Tapi aku memilih pulang sendiri. Aku membutuhkan moment untuk sendirian.

Esoknya..Hari itu hari Minggu, yang artinya adalah Kung harus berangkat ke Jakarta. Seperti biasa aku mengantarnya ke Stasiun. Aku masih ingat, saat itu Kung memilih kereta Fajar Utama. Jam 7.30 pagi aku mengantarnya ke Stasiun Tugu.Kami ngobrol di luar gerbong sambil menunggu kereta berangkat. Saat petugas mengumumkan bahwa kereta akan segera berangkat, Kung langsung naik ke pintu gerbong. Berpamitan seperti biasa. Aku hanya bilang “Hati-hati.. kalo udah nyampe kabari..”. Kung Cuma mengangguk.


Detik itu, saat kereta mulai berjalan pelan, Kung menyuruhku mendekat dan berkata ..
“Minggu depan aku ke rumah mu sama Keluarga ku.”

Dan kereta melaju semakin cepat.
Aku hanya terdiam memandangnya yang melambaikan tangan dengan senyum jahilnya. Aku melangkah ke tempat parkir masih dengan pikiran linglung. Pulang ke rumah menembus pagi Jogja yang masih cukup dingin,

dengan air mata yang tak bisa ku bendung. Ya, aku cengeng.Hari itu tiba.. 11 Desember 2010

Kung benar-benar datang ke rumah dengan keluarga besarnya. Setelah perkenalan dan pembicaraan singkat, akhirnya Lamaran pun diterima. Tanpa proses yang sulit, dan adat yang merepotkan. Kami sepakat, tanpa adat, hanya niat.
Kebetulan dua keluarga tidak terlalu meribetkan tanggal baik bulan baik. Semua hari baik, semua bulan baik, selama niatnya baik.

Kung menginginkan tanggal 11. Sama dengan tanggal kelahirannya. Dan filososi yang dia buat sendiri.
Ya.. dia buat sendiri. Bukan kebetulan juga kalau dia memilih tanggal 11 Desember untuk tanggal lamaran. Dan bukan kebetulan juga kalau ternyata hari itu adalah weekend, yang berarti semua keluarga libur kerja dan bisa ke Jogja tanpa perlu ambil cuti.

Buat Kung, angka 11 itu seperti dua menara, dua sosok yang berdampingan
.

Dua sosok yang berdampingan ia ibaratkan sebagai kami, pada akhirnya kami berdampingan. Dan filosofi matematika yang ngawur versi kami. Bahwa :

1 + 1 = 11

Yah.. seseorang + seseorang = dua orang yang menyatu tapi tetap menjadi diri sendiri.

Bukan : 1 + 1 = 2

Yang berarti seseorang (1) + seseorang (1) = Orang baru (2)

Bukan.. bukan seperti itu.Tapi seseorang (1) itu, bila bertemu dengan seseorang lain (1), akan tetap menjadi orang itu sendiri (1) yang menyatu..


(1) yang menyatu dengan (1) … jadilah 11.

Iyaa… itu filosofi ngawur dari kami.

Karena kami berpendapat, ketika kita memutuskan menyatu (menikah) kita akan tetap menjadi diri kita sendiri. Kita tidak akan berubah. Kita hanya menyatu. Berdampingan. Bukan menjadi sosok lain. Tidak. Coz we love each other for the real us. For good and not (so) good part of us.
Jadilah, kita sepakat tanggal 11. Bulannya apa? Belum tahu. Kami menginginkan acara di akhir pekan, mengingat keluarga besar banyak yang orang kantoran. Dan lebih spesifik lagi, hari Sabtu dengan pertimbangan cukup cuti 1 hari yaitu hari Jumat, Sabtu hari H dan minggu sudah bisa pulang ke kota masing-masing, Senin sudah bisa masuk kerja lagi.

Setelah buka kalender 2011 satu-satunya tanggal 11 di hari Sabtu adalah bulan… Juni. Well.. June.. my favorite month of a year. Jelas, karena itu bulan kelahiran ku. Diambillah tanggal itu 11 Juni 2011. Berdekatan dengan ulang tahun ku. It’s like the best birthday gift for me.
Semua persiapan pun segera dilakukan. Menunggu 6 bulan dengan semua perasaan yang campur aduk. Aku akan menjadi seorang istri. Posisi yang masih jauh dari pikiran ku hingga beberapa minggu sebelum lamaran.

Pada pertengahan bulan April, suatu hari aku sedang asik twitteran. Memantau timeline beberapa akun yang aku follow. Sampai aku menemukan twit dari salah satu akun yang berbunyi :


‘Bulan Juni diambil dari salah satu dewi Yunani bernama JUNO sang dewi Pernikahan’..


Jrengggg… kenapa bisa pas gini ya.. Kebetulan? Tidak. No, I don’t believe it. There’s no coincidence. Semua adalah skenario terhebat dari-Nya.
Hari besar kami pun tiba. Sabtu, 11 Juni 2011 – di Pendopo Museum Wayang Kekayon jam 09.00 pagi, Aku RESMI MENJADI SEORANG ISTRI untuk seorang lelaki bernama Andhika Fakhrudin
.



Oh ya, Resepsi pernikahan kami dimulai jam 11.00 WIB ..

So, Bagaimana rasanya menjadi ISTRI?

Biasa aja.. haha.. mengingat 4 tahun bersama Kung, tak pernah ada hal atau rahasia yang kami simpan. Semua baik dan buruk yang ada pada diri kami. Kami sudah sama-sama tahu, sudah bisa mengerti dan menerima. Ya.. walau masih sering bikin jengkel dan menyulut pertengkaran, but it’s over in bed. Cuma itu perbedaannya.. yeaahhhh!!!

Ooopsss… ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s