Maaf

‘Kau kecewa padaku?’ pertanyaan pertama mu ketika aku baru datang dengan kelelahan.

Aku hanya menatapmu. Diam.

Entah apa yang terjadi sebelum aku datang.
Ada gelas pecah di bawah meja ..
Ada makanan tumpah di sofa ..
Ada bingkai foto yang miring dari posisi semula ..

‘Aku tahu aku mungkin sedikit kelewatan. Sedikit egois. Tapi aku punya alasan ..’ kau kembali berargumen.

Aku berjalan ke arah bingkai foto yang miring .. foto kami .. saat ulang tahun ku tahun kemarin.
Tak berniat ku benarkan posisinya .. Mungkin kemiringan ini bisa meluruskan cara pandang mu ..

‘Aku banyak pekerjaan, Sayang .. Dari dulu kau tahu pekerjaan ku dan kau bisa memaklumi kan?’
Seperti kau memaksaku setuju ..

Ku langkahkan kaki ku menuju wastafel .. cuci tangan .. dan ku basuh wajah kusam ku ..

‘Kau sudah makan?’
Aku hanya menggeleng.

‘Rendangnya gosong ketika ku hangatkan,’ kau menunjuk wajan kecil yang berisi irisan daging hitam pekat.

‘Mie instan terakhir yang tersisa sudah ku makan,’

Aku masih diam sambil membereskan ruang kecil yang bagai medan perang itu.

Hening mengisi sesak .. Detak jarum jam semakin keras terdengar ..

Kau memilih bermain asap .. Tembakau di jari mu masih separuh ..
Biasanya ini akan bertahan lama .. sepuluh menit .. lima belas .. dua puluh .. setengah jam ..

‘Kau masih marah?’ keheningan pecah oleh suara serak mu.

Aku tak sanggup menjawab .. ada yang menekan dadaku begitu keras ..

‘Sudah ku jelaskan semua, Sayang .. dan aku jujur,’

Aku masih diam.

‘Oke .. kalau kamu sudah mau bicara, kamu tahu di mana bisa menemui ku,’
Kau beranjak ke kamar. Menutup pintu perlahan.

Benar – benar hening sekarang.
Jam dinding pun seperti kehabisan baterainya ..

Ku tutup mata .. meresapi kelam hitam dan kesabaran yang tinggal sehelai rambut saja ..
Kilatan peristiwa menari ..
Segala diam ku .. segala kecewaku .. tertata rapi seperti perpustakaan besar berisi tiap lembar peristiwa ..

Perlahan ku buka mata .. yang pertama ku lihat adalah vas bunga ..
Berisi bunga kering yang tak terurus ..

Tak menunggu lama .. ku raih vas itu .. dan ku lempar dengan tsunami hati yang tak terbendung ..

PRRAAAAANGGGG…!!

Vas terbentur tivi layar datar yang belum lunas kreditnya ..

Kau keluar dengan wajah tak percaya .. merah padam ..

‘Ada apa?’ kau bertanya dengan sedikit nada tak biasa ..

Nafas ku masih tersengal ..

Ketika ku menjawab, ‘MAAF .. tivi mu rusak’

‘Apa kau mengenal kata itu? -maaf-?’

Kali ini, kau tak mampu menjawab ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s