Pertemuan Malam itu

Tak ada yang berubah dari mu malam itu.
Tidak juga kepulan asap nikotin yang setia menemani.

Kulit mu hangat, sehangat kau berbisik, ‘Sehat?’
Aku jawab, ‘Iya .. Kamu?’
Senyum.
Hanya itu yang ku dapat.

Langit jadi abu-abu.
Tanpa rembulan tapi deretan awan mendung tipis membawa syahdu.

Kau tawarkan kursi kosong di samping mu.
Aku masih berdiri saja.
Mencoba mencari kornea mu.
Tapi sulit sekali bertemu.

‘Aku duduk di sana saja,’ aku memecah jeda kosong.
‘Kenapa? Sudah tak mau menemaniku,’

Ada yang menggesek dawai biola.
Panjang. Kasar. Miris.

‘Ada yang harus ku temani di meja sana,’ jawab ku tegas.

‘Duduklah di sini, dia tak kan apa-apa di sana sendiri’, kata mu dengan santai.

‘Tidak’, jawab ku.

Aku beranjak menjauh.
Langit abu-abu mulai menangis.
Dingin merayap hingga ke hati. Tak dapat berhenti.

Lelaki yang menunggu ku di meja sana lalu berdiri.
Menyambutku, mengecup pipi ku dan bertanya, ‘Kok telat? Kemana dulu?’

‘Tadi ketemu teman di depan,’ jawabku. Jujur.

‘Ohh..’ Dia lalu tersenyum dan mengusap lembut kepalaku yang tersiram sedikit gerimis.

Handphone ku bergetar. SMS.
Isinya,

‘duduklah di sini, dia tak kan apa-apa di sana sendiri. tapi tidak aku.’


Dan jantung ku beraktivitas lebih cepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s